Perbedaan Direct Procurement dan Indirect Procurement

Published by serenata on

Perbedaan Direct Procurement dan Indirect Procurement

Direct procurement dan indirect procurement sama-sama penting untuk bisnis meski fungsinya sangat berbeda dan membutuhkan pendekatan dan alat yang berbeda pula. Dengan memahami kesamaan dan perbedaan antara keduanya, dapat memudahkan Anda merencanakan rantai pasokan yang sukses dengan strategi manajemen yang jitu.

Direct procurement melibatkan pengadaan barang, bahan dan jasa yang berhubungan langsung dengan produksi barang dan atau jasa yang ditawarkan oleh suatu bisnis.

Sementara, indirect procurement mengacu pada biaya yang dikeluarkan untuk material, layanan dan pemeliharaan yang diperlukan untuk mengoperasikan bisnis. Keduanya sama pentingnya untuk menjalankan perusahaan dan saling membutuhkan satu sama lain.

Lalu, apa perbedaan antara direct procurement dan indirect procurement?

Direct Procurement

Direct procurement adalah perolehan barang, bahan, dan atau layanan yang akan langsung diterapkan pada produksi langsung bahan, barang atau layanan organisasi. Beberapa contoh pengadaan langsung dapat berupa bahan baku, mesin dan atau produk untuk dijual kembali.

Baca Juga: 5 Tips Meningkatkan Kinerja Divisi Procurement

Manufaktur adalah komoditas vertikal yang memiliki direct procurement pada strategi pengadaan keseluruhannya. Tanpa direct procurement, mesin dan bahan baku, produsen secara efektif stagnan dalam bisnis.

Walaupun keduanya, direct procurement dan indirect procurement adalah proses bisnis sirkular, yang diperlukan untuk fungsionalitas organisasi, direct procurement dipandang sebagai sarana untuk menciptakan margin keuntungan dan keunggulan kompetitif.

Seringkali, direct procurement diakreditasi dengan manajemen kualitas produk, kinerja operasional, dan pengalaman konsumen; mempertimbangkan kedekatannya dengan proses manufaktur. Karena alasan ini, orang dapat berpendapat bahwa aliran pendapatan tidak akan ada tanpa adanya pengadaan direct procurement.

Indirect Procurement

Indirect procurement adalah sumber dan pembelian bahan, barang, atau layanan yang diperlukan untuk penggunaan internal. Beberapa contoh dasar dapat berupa pembelian: jasa perjalanan, teknologi (komputer, telepon, dan perangkat keras lainnya), utilitas (gas, listrik, air dll) dan manajemen fasilitas (minuman, perlengkapan mandi, dll)

Namun, indirect procurement dapat dialokasikan untuk pengadaan manajemen pengembangan (pelatihan, SDM, perekrutan, dll.), layanan profesional eksternal (konsultasi, pembicara, penasihat), perangkat lunak (dan juga perangkat keras) dan pengeluaran Pemasaran (ruang iklan, PR, agensi)

Baca Juga: 6 Tips Tingkatkan Efisiensi Procurement Perusahaan

Indirect procurement didefinisikan sebagai pengeluaran administratif, yang diperlukan untuk kontrol keuangan harian dan fungsionalitas internal fasilitas dan basis karyawan perusahaan. 

Perbedaan Direct Procurement dan Indirect Procurement

Berikut adalah rincian perbedaan direct procurement dan indirect procurement

1. Manajemen Hubungan Pemasok

Indirect procurement menginvestasikan banyak waktu, tenaga dan energi untuk membangun dan memelihara hubungan dengan pemasok. Jadwal dan kontinuitas pasokan secara langsung mempengaruhi produksi; kualitas bahan baku berdampak pada kualitas produk akhir, dan dengan demikian menghasilkan reputasi dan kredibilitas perusahaan. Di sini, hubungan dengan pemasok biasanya bersifat jangka panjang dan kolaboratif.

Dalam indirect procurement, fokusnya adalah pada manajemen pengeluaran, bukan manfaat kolaborasi pemasok. Hubungan dengan pemasok bersifat transaksional, dengan biaya kompetitif menjadi fokus utama.

Berinvestasi dalam hubungan strategis daripada taktis dan membangun hubungan pemasok yang kuat adalah sesuatu yang dapat dipelajari pola indirect procurement. Merampingkan pemasok dan menyatukan volume, seperti direct procurement, akan menciptakan peluang penghematan yang lebih baik untuk indirect procurement .

2. Manajemen Biaya

Dalam direct procurement, analisis biaya dilakukan oleh klien dari biaya yang dikeluarkan oleh pemasok dalam memberikan produk atau layanan, untuk memandu negosiasi menjadi praktik manajemen biaya yang banyak digunakan.

Untuk indirect procurement, penganggaran berbasis nol adalah praktik terbaik. Sebuah metode untuk menyusun anggaran dari awal alih-alih mendasarinya pada anggaran sebelumnya, pola ini mengharuskan setiap pengeluaran dibenarkan sebelum ditambahkan ke dalam anggaran dengan tujuan mengurangi biaya sebanyak mungkin.

Baik direct procurement dan indirect procurement mendapatkan manfaat dengan menerapkan alat masing-masing ke kategori pengeluaran utama mereka.

Baca Juga: Inilah 6 Pokok Fundamental dalam Procurement yang Harus Diperhatikan

3. Manajemen Persediaan

Manajemen inventaris mengetahui bahan-bahan apa yang dimiliki, di mana stoknya, dan berapa banyak yang dibutuhkan.

Dengan direct procurement, untuk memastikan proses produksi lancar dan mencegah keterlambatan, bahan harus disimpan dalam persediaan. Sebaliknya, indirect procurement diatur oleh permintaan yaitu pembelian dilakukan sehingga persediaan terkait biaya bisa ditekan lebih rendah.

Direct procurement dapat menawarkan pelajaran berguna dalam praktik terbaik manajemen inventaris, yang dapat membantu fungsi indirect procurement mencapai keseimbangan yang tepat antara aktivitas penawaran dan permintaan.

4. Penggunaan Teknologi

Indirect procurement biasanya memiliki persyaratan yang beragam dan terfragmentasi hingga seringkali dihasilkan oleh sejumlah besar pengguna dari fungsi internal, non pengadaan organisasi. Untuk merampingkan dan menyederhanakan proses, ketika memilih solusi e-procurement, indirect procurement difokuskan untuk menciptakan pengalaman pembelian yang tidak rumit melalui teknologi yang mudah digunakan.

Perusahaan mulai menyadari untuk meningkatkan teknologi direct procurement dapat membantu merampingkan proses, memotong risiko, menjaga kualitas dan memangkas biaya. Namun demikian, banyak juga yang terhambat karena sistem yang sulit dan memiliki banyak fitur hingga memiliki interface pengguna tidak intuitif yang ditautkan dengan sistem ERP organisasi. Proses yang rumit, memang berdampak negatif pada kepatuhan dan produktivitas.

Direct procurement lebih baik untuk belajar dari fokus indirect procurement yang lebih ramah pada pengguna. Strategi yang paling efektif bagi bisnis untuk berinvestasi dalam sistem platform tunggal yang intuitif, end-to-end sistem single platform yang dapat digunakan oleh kedua fungsi.

5. Pengaturan Organisasi

Di sebagian besar perusahaan, direct procurement dikelola oleh tim pengadaan dan rantai pasokan terpusat, dengan manajer kategori berfokus pada area pengeluaran tertentu. Sebaliknya, indirect procurement cenderung tersentralisasi dan tersebar pada berbagai pemangku kepentingan internal dengan anggaran independen dan protokol pengeluaran.

Menciptakan struktur dan kategori terpusat untuk indirect procurement akan meningkatkan efisiensi dan kepatuhan dan mengurangi biaya, terlebih lagi dalam bisnis yang berorientasi layanan di mana indirect procurement tinggi.

Direct procurement dapat memetik pelajaran berharga dalam soft skill yang sangat penting untuk menangani sejumlah besar persyaratan, pemangku kepentingan internal dan vendor, yang semuanya membuat indirect procurement begitu rumit.

Itulah perbedaan direct procurement dan indirect procurement. Apakah sejauh ini Anda sudah bisa memahaminya lebih baik? Proses procurement sendiri bisa berjalan lancar apabila disokong dengan software eprocurement yang bagus. Untuk itulah, ProcurA hadir jadi jawaban untuk solusi eprocurement bagi perusahaan Anda. Tertarik mencoba? Kunjungi link kami di sini.

Sumber:

(RTS)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *