Seperti Apa Sejarah Batik di Indonesia?

Published by serenata on

Seperti Apa Sejarah Batik di Indonesia?

Sobat ProcurA, Hari Batik Nasional diperingati setiap tanggal 2 Oktober. Tentu saja di mana-mana hari ini pasti kita melihat banyak orang menggunakan pakaian batik. Tidak salah memang, ikut merayakan batik memang jadi euforia bersama milik bangsa Indonesia. Terlebih lagi, batik merupakan salah satu ikon milik Indonesia.

Tapi, sudah memakai batik dan merayakan hari batik di sosial media, apakah Anda sudah bagaimana sejarah batik? Yuk, simak cerita lengkapnya di bawah ini!

Sejarah Batik

Dalam sejarahnya, nama batik diduga berasal dari Mesir Kuno atau Sumeria lebih dari 1.000 tahun lalu. Dengan teknik serupa, batik juga meluas ke Tiongkok, India, Jepang, Afrika, dan Senegal ribuan tahun lalu, hingga sampai ke Indonesia.

Anggapan tersebut disampaikan oleh G.F. Rouffer dalam bukunya yang berjudul De Batikkunst in Nederlandsch-Indie en Haar Geschiedenis yang menceritakan asal mula seni batik Jawa adalah dari India yang diperkenalkan sejak zaman Kerajaan Majapahit. Hal ini terbukti dari ukiran candi peninggalan zaman kerajaan Hindu-Buddha yang menggunakan motif batik. 

Sejarah batik berkembang dari zaman Kerajaan Majapahit hingga meluasnya ajaran agama Islam khususnya di Pulau Jawa pada abad ke-17. 

Batik berasal dari bahasa Jawa “ambhatik”, dari kata “amba” yang berarti lebar, luas, kain; dan “titik” atau “matik” yang artinya menghubungkan titik-titik menjadi gambar tertentu pada kain yang luas atau lebar. Dalam bahasa Jawa, batik ditulis “bathik”. Dengan demikian, pengertian batik adalah seni lukis di atas kain dengan menggoreskan malam (lilin) pada alat bernama canting.

Baca Juga: Luangkan Waktu untuk Mengikuti 7 Komunitas Sosial Inspiratif Ini!

Awalnya batik hanya dituliskan di atas daun lontar dan papan rumah adat Jawa sebelum akhirnya dituliskan di atas kain. Seiring dengan perkembangan zaman, mulai diaplikasikan pada kain dengan motif batik yang awalnya sangat sederhana yakni binatang dan tumbuhan akhirnya memiliki motif sendiri yakni awan, candi dan wayang disertai pewarna alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang menjadi cikal bakal batik tenun.

Karena jumlahnya yang sangat terbatas, kain batik hanya digunakan oleh keluarga kerajaan dan pengikutnya dan dijadikan simbol budaya. Awalnya, batik hanya dibuat terbatas pada kalangan keraton saja, namun mulai tersebar keluar oleh para pengikut raja. Tak perlu waktu lama hingga para rakyat menirunya, terutama bagi kaum perempuan.

Batik di Jawa

Meskipun tidak ada catatan resmi lokasi spesifik batik bermula berkembang di Indonesia, namun data yang tercatat di Deperindag menyebut motif batik sudah dibuat saat terjadi perang besar tahun 1825 – 1830 di Kerajaan Mataram dengan adanya Perang Jawa. Beberapa catatan menyebutkan batik disempurnakan di Solo, Yogyakarta, Tulungagung, Gresik, Surabaya hingga Madura setelah diawali proses pembuatannya di Pekalongan. Seiring berjalannya waktu, batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan daerah lain. 

Dalam perkembangannya, pembuatan batik tak lagi dengan tulis namun juga cap yang dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar 1920-an. Pada saat itu, permintaan batik di pasaran mulai meningkat sehingga produsen batik mulai mencari cara agar batiknya diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang cepat.

Baca Juga: Anak Minta Liburan, Ini Tips Minta Cuti ke Atasan yang Efektif!

Batik Tulis

Motif batik yang pertama kali berkembang sebelum abad ke-20 adalah batik yang ditulis dengan kanji (aci) pada kain simbut dengan alat dari belahan bambu yang akrab kita sebut sebagai batik tulis. Lalu, batik jenis ini diberi warna dengan teknik pencelupan warna pada kain putih setelah diberi pola dengan lilin canting. Batik tulis sendiri menggunakan bahan-bahan pewarna alami dari tumbuhan asli Indonesia, seperti pohon mengkudu, soga, nila, dan tinggi.

Batik tulis memiliki nilai seni yang sangat tinggi karena tidak satupun batik tulis di dunia ini persis sama. Batik ini keseluruhan dibuat menggunakan canting dengan motif yang diulang dan tetap menggunakan tangan sehingga diperlukan konsentrasi yang tinggi untuk membuat batik tulis menjadi rapi. 

Pembuatan batik tulis bisa memakan waktu dua minggu hingga dua tahun dengan harga pasaran termurah yakni Rp600.000 hingga ratusan juta rupiah. 

Batik yang Mendunia

Batik pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Soeharto saat mengikuti konferensi PBB. Namun batik sempat ditinggalkan masyarakat tanah air hingga akhirnya ingin diklaim oleh negara tetangga Malaysia. Sehingga, pada tahun 2008 saat masa pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pemerintah mendaftarkan batik ke dalam jajaran daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO.

Baca Juga: Kuliah Sambil Kerja, Ini Tips Manajemen Waktu yang Baik

Secara resmi, hal ini diterima UNESCO pada 9 Januari 2009, dan tepatnya pada 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar tersebut di Abu Dhabi, Uni Emirat Arat. Setelah penetapan itu, Indonesia jadi menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, yang diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009. 

Itulah sekilas mengenai sejarah batik di Indonesia. Setelah membacanya, tentu saja Anda jadi bisa lebih menghargai karya batik, bukan? Ayo, lestarikan budaya batik di Indonesia dan banggalah menggunakan batik! Selamat Hari Batik Nasional!

Sumber:

(RTS)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *